HP Pelajar SMP Di Lubuklinggau Untuk Belajar Online Di Jambret

Jambret beraksi di Kota Lubuklinggau, menyebabkan (15) pelajar Kelas IX SMP, warga Kelurahan Taba Lestari Kecamatan Lubuklinggau Timur I, kehilangan Ponsel Vivo Y 91, yang selama ini digunakannya untuk belajar daring bersama adiknya.

Diceritakan kakak korban, Novi, pejambretan tersebut terjadi Sabtu (13/3/2021) sore, saat Juliza berencana pergi ke Objek Wisata Bukit Gatan di Desa Sukerejo Kecamatan STL Ulu Trawas Kabupaten Musi Rawas.

Sebelum pergi Juliza dan teman-temannya berencana berkumpul di rumah temannya, Selvi di Jalan Nakula Kelurahan Marga Mulya Kecamatan Lubuklinggau Selatan I.

Saat tengah jalan kaki di lorong bersama temannya, tiba-tiba ada temannya yang lain menelpon, saat mengangkat telpon sembari berjalan tiba-tiba muncul dua pelaku dari arah belakang mengendarai motor.

“Kedua pemuda tanggung tersebut mengendarai sepeda motor Vario Techno 150 Cc datang dari arah belakang mereka,” ungkap Novi pada wartawan, Minggu (14/3/2021).

Novi menceritakan, adiknya bersama temannya itu awalnya tidak menduga sama sekali, bila kedua pelaku seusianya itu akan menjambret ponsel.

“Sebab dari kejauhan ketika mereka menoleh kebelakang, mereka melihat kedua pelaku seolah-olah sudah saling kenal, sebelum mengambil ponsel, keduanya merayu mengeluarkan lidah seolah-olah mereka akrab,” ujarnya.

Namun, ternyata setelah dekat salah satu pelaku yang di bonceng langsung merampas ponsel, seketika itu Yuliza langsung berteriak-teriak sambil menangis, minta tolong kepada warga sekitar.

Bahkan, Yuliza sempat mengejar kedua pelaku, namun tidak berhasil, karena sehabis mendapat ponsel kedua pelaku langsung tancap gas melarikan diri keluar dari lorong.

“Warga ramai keluar, tapi karena pakai motor akhirnya tidak bisa di tolong, karena sehabis mengambil ponsel keduanya langsung kabur dengan cepat,” ujarnya.

Novi pun sangat berharap polisi dapat menangkap ke dua pelaku, karena ponsel yang diambil kedua pelaku jambret tersebut merupakan satu-satunya untuk belajar daring.

Hanya saja, Ia menyampaikan tidak berani melaporkan kejadian tersebut ke polisi, karena ponsel yang dijambret dibeli second dan tidak mempunyai kotak.

“Walau tidak dilapor harapannya dapat ditangkap, karena untuk belajar daring dua beradek, dengan ponsel hilang seperti sekarang mereka bingung mau belajar pakai apa,” ungkapnya. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *